Kepala Dinas Pertanian Tinjau Pompanisasi di Desa Mulyasari Kecamatan Majenang

Cilacap – Kepala dinas pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, SP, MP meninjau pompanisasi desa Mulyasari Kecamatan Majenang yang kini telah difungsikan untuk mengairi lahan perasawahan petani, Sabtu (22/9/2019). Kepala Desa Mulyasari Kecamatan Majenang, Tohari mengatakan pompanisasi

Cilacap – Kepala dinas pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, SP, MP meninjau pompanisasi desa Mulyasari Kecamatan Majenang yang kini telah difungsikan untuk mengairi lahan perasawahan petani, Sabtu (22/9/2019). Kepala Desa Mulyasari Kecamatan Majenang, Tohari mengatakan pompanisasi di Mulyasari Kecamatan Majenang dibangun atas swadaya masyarakat desa untuk mengatasi kekeringan lahan persawahan seluas kurang lebih 160 hektar.

“Pompa ini dibangun atas swadaya masyarakat untuk mengatasi kekeringan di lahan persawahan. Alhamdullilah kalo bisa mendapat bantuan pompa air dari pemerintah”, ujarnya. Tohari menambahkan, pompa air yang ada sekarang merupakan hasil pinjam dari kelompok tani lain. Sehingga apabila kelompok tersebut membutuhkan maka harus dikembalikan. Dengan adanya bantuan pompa air dari Dinas Pertanian diharapkan lebih optimal dalam pompanisasi. Sehingga lahan persawahan di Desa Mulyasari dapat lebih optimal dan maksimal pengolahannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Cilacap, Supriyanto, SP, MP mengatakan diberikannya bantuan pompa air kepada Desa Mulyasari merupakan upaya dari pemerintah dalam mengatasi kekeringan. Apalagi pompa air yang ada merupakan pinjaman dari kelompok lain. Sehingga hasilnya belum maksimal.

“Kenapa pompa ini saya berikan?, karena kita berupaya untuk mengatasi kekeringan. Apalagi tadi pak kades bilang kalo pompanya pinjam dari kelompok lain. Jadi kalo kelompoknya butuh kan harus diambil.” Ujar Supriyanto, SP, MP.

Supriyanto menambahkan, dengan bantuan tersebut diharapkan mampu untuk mengatasi persoalaan kekeringan di 160 hektar dengan umur tanaman antara 30 hari sampai dengan 60 hari yang merupakan umur pertumbuhan yang membutuhkan air dalam jumlah yang sangat cukup. Dalam pengelolaan dan pemeliharaan pompanisasi , juga perlu pemberdayaan petani yang nantinya akan mengatur air agar dapat dimanfaatkan secara efektif dan merata kesemua lahan persawahan baik yang dihulu maupun dihilir, sehingga tidak terjadi konflik sesama petani.

Supri berharap,kedepannya lahan di wilayah tersebut mampu untuk lebih dioptimalkan. Bukan hanya untuk Musim Tanam (MT) I dan MT II, tetapi juga untuk MT III. “Kedepan ayo kita pikirkan bareng, optimalkan lahan yang ada. Kalo MT I dan MT II bisa padi, MT III jangan ditinggalin, sumber air ada kok. Bisa palawija atau yang lain” terangnya. (Ahl)

Related Post